Gapura Candi BentarBangunan
Gapura Candi Bentar dari dulu hingga kini merupakan sebuah rumah adat
yang menjadi ciri khas di Bali. Pada salah satu bagian pada rumah adat
tersebut terdapat 2 bangunan candi yang terletak sejajar dan digunakan
sebagai pintu masuk utama untuk menuju ke halaman area rumah, biasanya
pintu masuk utama juga terdapat di suatu Pura atau tempat ibadah umat Hindu di Bali. Meskipun bangunan ini terletak terpisah antara satu dengan yang lainnya, gapura ini masih terhubung dengan adanya pagar besi dan sejumlah anak tangga pada bagian bawah.
Selain bangunan candi,di sekitar gapura juga memiliki julukan Gerbang Terbelah. Mendapatkan
julukan tersebut karena pada bentuk bangunannya seolah menggambarkan
satu bangunan candi yang dibelah menjadi dua bagian
Rumah Hunian Bali
Struktur Rumah Hunian Penduduk BaliSelain
bangunan Gapura Candi Bentar, ternyata di Bali ada juga rumah adat
berupa sebuah bangunan yang memiliki bentuk segi empat, dimana di
dalamnya terdapat beberapa macam bangunan yang memiliki fungsi
masing-masing. Seluruh bangunan tersebut dikelilingi oleh tembok besar
sebagai pemisah antara lingkungan dalam dengan lingkungan luar.
Selain
di negara China yang terkenal dengan tata cara penempatan lahan,
ternyata di bali juga menerapkan peraturan yang seperti itu. Dalam
aturan tersebut harus sesuai syarat dan aturan yang terdapat di kitab
suci Weda. Aturan tersebut disebut dengan Asta Kosala Kosali.
Filosofi yang terdapat dalam Asta Kosala Kosali
adalah terbangunnya keselarasan dan kedinamisan dalam hidup apabila
tercapai suatu hubungan yang damai dan harmonis antara 3 aspek yang
disebut dengan Tri Hita Kirana.
Macam-macam Bangunan dalam Rumah Adat Bali
Arsitek atau perancang dari rumah adat Bali biasanya disebut dengan Udagi. Dalam proses pembuatan rumah tersebut, Udagi pastinya berpedoman pada Asta Kosala Kosali, sehingga terbangunlah beberapa bangunan dalam rumah adat Bali sebagai berikut:
Bangunan Angkul-angkul
Bangunan Angkul-angkul di BaliAngkul-angkul
merupakan sebuah bangunan berupa pintu masuk utama dan satu satunya
untuk menuju ke dalam rumah adat Bali. Fungsi dari bangunan tersebut
hampir sama dengan Gapura Candi Bentar pada Pura, yaitu sama-sama
sebagai pintu masuk. Akan tetapi ada perbedaan diantara keduanya, yaitu
pada bangunan angkul-angkul terdapat sebuah atap yang menghubungkan
kedua sisi pada gapura tersebut. Adapun atap dari bangunan tersebut berupa atap yang berbentuk piramida dan terbuat dari rumput kering.
Aling-aling
Contoh Bangunan Aling-alingBangunan aling-aling berfungsi sebagai pembatas antara angkul-angkul dengan halaman pekarangan atau tempat suci. Adanya bangunan aling-aling
ini dipercaya dapat meningkatkan sifat ruang positif yang muncul akibat
adanya dinding pembatas yang mengelilingi rumah atau disebut dengan penyengker. Di dalam penyengker tersebut terdapat sebuah ruangan yang didalamnya terdapat beberapa aktivitas dan kegiatan manusia.
Selain tembok, untuk sekarang ini banyak juga yang menggunakan patung sebagai aling-aling. Sedangkan penyengker dipercaya sebagai batas antara ruang positif dengan ruang negatif.
Bangunan Sanggah di BaliBangunan Sanggah atau Pamerajan
merupakan sebuah tempat suci bagi seluruh rumah yang biasanya ruangan
tersebut terletak disudut timur laut dari rumah. Dengan begitu berbagai
kegiatan sembahyang dan berdoa biasanya dilakukan ditempat tersebut.
Rumah Adat Bale Menten atau Bale Deja
Bale Mente atau Bale DejaBale Menten
merupakan sebuah ruangan yang dikhususkan untuk tidur bagi kepala
keluarga atau anak gadis. Pada umumnya ruangan tersebut terletak di area
sebelah utara (kaja). Bangunan tersebut memiliki bentuk persegi panjang dan terdiri dari dua bale lain yang terletak di sebelah kanan dan kiri ruangan.
Bangunan Bale Dauh atau Bale Tiang Sanga
Contoh Bale Dauh atau Bale Tiang SangaBangunan Bale Dauh ternyata juga sering dijuluki dengan Bale Loji
yang merupakan suatu tempat untuk menerima tamu dan juga tempat tidur
untuk anak remaja dan biasanya ruangan tersebut terletak disebelah
barat. Bangunan tersebut juga terdapat sebuah bale yang terletak dibagian dalam dan berbentuk persegi panjang. Selain itu Bale Dauh juga menggunakan sesaka atau
sebuah tiang yang terbuat dari kayu dan juga memiliki sebutan yang
berbeda-beda serta tergantung dari jumlah tiang
Biasanya pada bale tersebut terdapat 6 buah tiang yang disebut sakenem. Apabila jumlah tiang ada 8 buah, maka disebut dengan sakutus atau astasari, sedangkan jika berjumlah 9 maka disebut dengan sangasari. Selain itu pada bangunan tersebut juga menggunakan bebaturan dengan posisi lantai yang lebih rendah dari Bale Dangin dan Bale Mente.
Bale Sekapat
Contoh Bangunan Bale SekapatBale Sekapat adalah sebuah bangunan yang hampir sama dengan gazebo. Bangunan ini memiliki 4 buah tiang yang digunakan untuk pavilium atau kamar anak, selain itu juga digunakan untuk bersantai. Bangunan tersebut bisa dibilang cukup simple karena hanya berbentuk segi empat dan atap yang berbentuk pelana atau limasan.
Rumah Adat Bale Dangin atau Bale Gede
Bale Dangin di BaliSalah
satu fungsi dari bangunan ini adalah digunakan sebagai tempat upacara
adat dan juga untuk beristirahat. Bangunan tersebut terletak disebelah
timur atap pada bagian dangin natah umah. Selain itu Bale Dangin
memiliki bentuk persegi empat dan juga ada yang berbentuk segi empat
tergantung dari jumlah tiang pada bangunan tersebut. Pada biasanya Bale Dangin atau Bale Gede memiliki 12 sesaka atau tiang dan juga terdapat 2 buah bale pada sisi kanan dan kiri. Bebaturan pada Bale Dangin memiliki lantai yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan Bale Menten.
Ruangan Paon atau Paweregen
Ruangan Paon atau PaweregenPaon
sebenarnya memiliki fungsi yang sama dengan dapur yaitu tempat untuk
mengolah dan memasak makanan. Biasanya ruangan tersebut terletak di sisi
sebelah selatan atau barat daya dari rumah. Tempat tersebut terbagi
menjadi 2 area, yaitu
Area pertama biasanya ruangan tersebut terbuka dan untuk memasaknya pun menggunakan kayu bakar.
Pada bagian kedua merupakan ruangan untuk penyimpanan makanan dan alat-alat dapur.
Pada umumnya masyarakat Bali mempercayai bahwa dapur merupakan tempat untuk menghilangkan ilmu hitam atau butha kala
yang menempel pada rumah tersebut. Sehingga jika ada salah satu dari
anggota keluarga yang baru pulang dari bepergian harus memasuki dapur
terlebih dahulu sebelum ia memasuki bangunan atau ruangan yang lainnya.
Sumber Referensi: https://balubu.com/rumah-adat-bali/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar